RSS

Proses Dan Prosedur Dalam Rekaman Digital

03 Sep

DIGITAL AUDIO PROCESSING

Seperti kita ketahui bersama bahwa  Digital Recording atau proses/prosedur rekaman Digital adalah merupakan sebuah teknik atau sistem rekaman secara Digital dengan mempergunakan alat-alat digital atau konvensional (analog) yang diproses dan dikerjakan dengan menggunakan ‘tehnologi yang berbasis komputer’, hal mana Rekaman Digital itu sendiri akhir-akhir ini telah banyak beredar di kalangan masyarakat luas (baik dalam bentuk CD, MP3 file sampai kepada Nada Dering) seiring dengan pesatnya perkembangan teknologi komputerisasi itu sendiri.
Sebagaimana kita ketahui bersama, bahwasanya kita dapat memanfaatkan komputer sebagai suatu alat bantu dalam menyelesaikan banyak hal,  mulai dari hal-hal yang sederhana sekalipun sampai kepada hal-hal yang cukup rumit atau pelik, bahkan untuk saat ini bisa dikatakan hampir tidak ada proses pekerjaan yang tidak menggunakan bantuan tehnologi komputer (baik dalam proses pekerjaan maupun pengarsipan) dan ini berlaku pula halnya dengan DR (Digital Recording). Karena jika kita benar-benar memiliki pemahaman dan dasar yang cukup mengenai sistem komputer, maka kita akan cukup mudah untuk memahami bagaimana sebuah sistem komputer dapat membantu mempercepat serta memudahkan pekerjaan-pekerjaan/hidup kita.
Untuk pertama kalinya, janganlah kita membayangkan bahwa pengetahuan tentang Rekaman Digital ini hanyalah sebatas pada pengetahuan tentang alat-alat digital yang ada seperti automated mixing controler, digital-analog converter, dan alat-alat (software-software) hebat lainnya. Bayangkanlah terlebih dahulu bila kita hanya memiliki sebuah unit-komputer, sound card yang memadai dan seperangkat speaker- monitor yang memungkinkan untuk mereproduksi semua sinyal-sinyal suara (sound) dengan cukup baik, microphone, dan lain-lain serta yang terakhir adalah sebuah ‘Software Audio’ (Pro-Tool, Cubase dll) yang nantinya akan kita pergunakan sebagai ‘host’.
Tentunya jika kita ingin agar hasil akhir yang kita peroleh dapat memiliki kualitas sekelas produk studio-studio besar (terkenal), maka penggunaan ‘plug-in’ yang memadai adalah merupakan hal yang sangat diperlukan dalam proses ‘mixingmastering‘ pada akhirnya nanti. Walaupun memang nantinya ada hal-hal lain yang juga perlu untuk kita ketahui, seperti pengetahuan akan perbedaan sinyal frekuensi masing-masing instrument dan pengetahuan akan bagaimana harmonisasi maupun dinamika musik itu sendiri.
Sistem Hardware Komputer
Untuk dapat melakukan semua proses yang berkaitan dengan DR (Digital Recording), setidaknya kita harus memiliki satu unit komputer sistem dengan spesifikasi yang cukup memadai untuk dapat meng-handle proses-proses (editing, mixing dan mastering) yang nantinya akan kita laksanakan sebagai suatu proses kerja yang terintegrasi.
Kami sarankan Anda untuk memiliki sebuah sistem komputer dengan spesifikasi: operating Windows XP, atau Apple, hardware komputer memiliki processor 1,2 GHz, memory minimal 1 GB, kapasitas harddisk minimal 150 GB (penting dipergunakan saat proses mastering), monitor dengan resolusi 1280×960, 24-bit color, 48 x CD/DVD RW, sebuah sound card 16-bit atau 32-bit  dan juga seperangkat speaker -monitor tipe flat (cukup relatif sifatnya) yang dapat mereproduksi signal-signal audio yang dihasilkan. Disamping itu kita juga wajib memiliki sebuah ‘keyboard controller’, ‘head-phone’ berikut ‘microphone’ (biasanya Condensor Microphone) yang cukup berkualitas tentunya (dalam arti memiliki spesifikasi khusus untuk musik digital). Sekaligus (bilamana mungkin) perlu adanya sebuah ruangan atau mungkin space tersendiri untuk dapat melaksanakan proses dan atau prosedur Digital.
Kesemua hal diatas adalah merupakan perangkat-perangkat standar yang harus kita miliki, di mana jika Anda memiliki spesifikasi tersebut Anda sudah bisa menjalankan proses DR dengan cukup baik. Tetapi tentunya, tidak ada salahnya jika Anda ingin menyediakan spesifikasi komputer yang jauh lebih baik dari apa yang kami berikan di atas.
Sound Card
Biasanya, terdapat kriteria-kriteria khusus yang harus dipenuhi oleh pengguna komputer dalam memilih ‘sound card‘ yang akan dipergunakan, di mana hal tersebut bergantung kepada pemilihan software digtital musik (Fruittyloop, ProTool dan Cubase dsb) yang nantinya akan kita gunakan. Sound-card yang cukup umum dipergunakan adalah Creative, M-Audio, Digidesign dan lain-lain. Satu hal yang perlu diperhatikan, bahwa sound-card ini secara garis besar ada dua macam yaitu PCI (yang terintegrasi langsung dengan perangkat komputer kita) atau USB (yang dipasangkan ke komputer kita lewat jalur usb).
Pemilihan dan pemakaian sound-card akan berpengaruh pada kualitas recording yang kita hasilkan serta tingkat kompatibilitas antara hardware dan software. Mengapa kita harus memilih atau menggunakan sound card dengan bit depth minimal sebesar 16-bit? Inilah penjelasan singkatnya, hingga saat ini industri musik telah mendefinisikan sebuah sistem dengan 65.536 value berbeda, yang bertugas untuk mendefinisikan setiap amplitude yang berbeda dari bentuk audio data. Oleh karenanya, komputer memerlukan minimal 2 bytes (16-bit) untuk dapat menyimpan setiap sampel suara. Hal tersebut berhubungan dengan proses sampling dan resolusi sampling itu sendiri ( 216 = 65.536). Sehingga sangat wajar apabila kita membutuhkan sebuah sound card yang memiliki spesifikasi mininal 16 bit, agar kita dapat menyimpan semua sampling suara dengan sempurna.
Berikut ini ada beberapa nama produsen sound card yang dapat kita pilih sekaligus kita pergunakan, di antaranya adalah : Creative-LabsDigidesign, M-Audio, Tascam, Motu dan masih banyak lagi lainnya. Tetapi untuk lebih jelas perihal tipe sekaligus spesifikasi (kelebihan atau kekurangan) apa saja yang menjadi unggulan masing-masing produk dapat dilihat pada situs-situs resmi mereka masing-masing (klik langsung merk SC di atas-red).
Cabling (Teknik Kabel)
Kabel audio adalah hal yang juga memiliki pengaruh yang tidak kecil pada saat melakukan proses recording (untuk mendapatkan source yang memadai) nantinya. Mengapa penting? Karena jika kabel yang kita pergunakan memiliki resistansi yang cukup tinggi dan memiliki tingkat noise yang cukup besar, maka nantinya hasil perekaman pun akan kurang maksimal (tidak jernih). Dan wajib kita pastikan pula bahwa antara slot input dan jack input kabel memiliki tipe yang sama, dan jangan sampai kita menyambungkan tipe jack stereo ke dalam slot mono, dan atau sebaliknya.
Flat Speaker-Monitor

Flat Speaker-Monitor ini kita perlukan untuk melakukan monitoring terhadap proses DR yang telah kita lakukan. Baik tidaknya suara rekaman yang kita hasilkan juga bergantung kepada pemilihan speaker itu sendiri. Jangan sampai kita tertipu hanya karena speaker tersebut memiliki kemampuan 5.1 speaker tetapi signal yang dapat dikeluarkan tidak maksimal atau dapat dikatakan tidak murni. Karena akan sangat percuma jika kita sudah memiliki sound card dengan bit depth 16-bit, di mana kapasitas signal yang mampu dikeluarkan adalah mencapai 48 KHz. Ada beberapa merk speaker-monitor yang cukup memadai dan bisa kita pergunakan (yang tentunya harus sesuai dengan spesifikasi perangkat audio/musik digital yang kita miliki), diantaranya Yamaha M-AudioKRK dan lain-lain.

Pemilihan Software

Ada beberapa software yang dapat kita pergunakan (sebagai host) untuk dapat melakukan proses DR, mulai dari Cubase SX, Pro-Tools, Logic Audio, Cakewalk Sonar, dan masih banyak lagi lainnya. Setiap software memiliki karakteristik tersendiri. Hal tersebut akan dapat dilihat pada saat kita mempergunakan bermacam-macam plug-ins pada satu macam software, karena ada beberapa software yang mampu menggunakan plug-ins produksi developer software lainnya. Tetapi, ada pula plug-ins yang tidak maksimal ketika digunakan pada suatu software tertentu yang diproduksi oleh produsen yang berbeda.

Plug-in

Didalam proses DR masih juga diperlukan plugin-plugin tambahan dengan berbagai fungsi yaitu diantaranya memberikan nuansa analog (tube/tabung) pada produk musik/rekaman yang kita hasilkan, ‘tuning vokal’ yang bermanfaat untuk mengedit vokal agar tidak false, ‘warmer’ yang mampu memberikan hasil lebih warm (terbuka-tebal) pada musik atau hasil recording kita. Dan masih banyak lagi diantaranya digital-equalizer, digital verb, digital limiter-processor, digital warmer ataupun digital master-comp.
Setelah semua perangkat-perangkat tersebut di atas telah kita miliki, masih ada beberapa hal yang harus kita kuasai juga, yaitu pengetahuan tentang Mixing dan Mastering. Demikianlah pengetahuan yang sederhana ini kami bagikan kepada anda semua, semoga bermanfaat.
sumber : http://dolananmusik.blogspot.com/2011/02/digital-musik-processing.html dengan beberapa kata-kata yang saya rubah,.
 
Tinggalkan komentar

Ditulis oleh pada September 3, 2013 in mastering, Trik

 

Tag:

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s